Rabu, 15 Februari 2017

Aplikasi “Behavioral Insights” dalam Menghadapi Golongan Anti-Immunisasi

Hari ini, kita akan membahas tentang "Behavioral Insights" dan strategi menghadapi golongan anti-immunisasi. Sebagai dokter, apa yang bisa kita lakukan untuk mempromosikan immunisasi kepada golongan anti-immunisasi? Apa taktik yang paling tepat? Penasaran? Silakan membaca!! =)

Apakah "Behavioral Insights"?


Secara kasar, "behavioral insights" merupakan sebuah studi yang mempelajari sikap dan aspek psikologi dalam proses pembuatan keputusan ("decision- making"). Studi ini meneliti sikap sosial, kognitif dan emosional seseorang individu dan komunitasnya dalam membuat kebijakan yang sesuai dan khas untuk kelompok sasaran.

Seperti di buku Sun Tzu "The Art of War" tentang strategi peperangan: ketahuilah lawanmu dan dirimu untuk memenangkan peperangan. "Behavioral insights" juga bertaktik sedemikian.




Waktunya Bicara Kesehatan Mental, Tahukah Kamu Aplikasi Kesehatan Mental Ini?

(sumber:https://play.google.com/store/apps/details?id=com.kemkes.sehatjiwa&hl=in)

Bertepatan dengan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 11 Oktober 2015 lalu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia secara resmi meluncurkan Aplikasi Android Sehat Jiwa yang dapat di unduh gratis oleh masyarakat melalui Playstore.

Saat ini di Indonesia tingkat literasi masyarakat untuk mencegah dan mengenali masalah kesehatan jiwa masih kurang. Didasari oleh latar belakang itulah maka Kementerian Kesehatan RI melakukan pengembangan dari Aplikasi ini.

Aplikasi Sehat Jiwa adalah suatu aplikasi yang dikembangkan sebagai wadah komunikasi, edukasi serta informasi tentang kesehatan jiwa bagi masyarakat yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza.
Aplikasi versi Web dapat diakses melalui http://www.sehat-jiwa.kemkes.go.id


Sumber:
http://sehat-jiwa.kemkes.go.id/detailkegiatandirektorat/12
http://sehat-jiwa.kemkes.go.id/deskripsi

Cegah obesitas pada remaja - Multiapproach, Fun programs

Obesitas pada remaja merupakan salah satu masalah public health yang mengemuka belakangan ini, hal ini dikarenak prediksi burden yang harus ditanggung pemerintah dalam tahun-tahun berikutnya begitu berat apabila pencegahan tidak dilakukan sejak dini. Remaja dengan Body Mass Index (BMI) diatas normal memiliki kemungkinan mengalami resiko menderita berbagai penyakit kronis pada usia yang lebih muda maupun kesulitan lain seperti dalam mencari pekerjaan juga lebih rentan mengalami gangguan mental dibanding mereka dengan BMI normal.

Berikut hal-hal yang dapat meningkatkan resiko kegemukan pada remaja dan konsekuensi dari kegemukan itu sendiri :



Adapun implementasi program pencegahan populasi remaja haruslah memahami karatker dan ciri khas remaja itu sendiri agar pelaksanaan program dapat lebih sesuai dan mencapai target. Ciri dari remaja sendiri adalah aktif, dinamis dan kreatif sehingga program-program yang dicanangkan untuk dibuat juga haruslah menggambarkan ciri khas diatas. Hal ini sejalan dengan program yang dilaksanakan oleh Eatwell yang mengajarkan siswa remaja untuk mempersiapkan makanan mereka sendiri di sekolah.

Melalui program ini siswa diajarkan mengenai cara mengolah makanan secara sehat mulai dari pemilihan bahan makanan yang sehat dan bebas pengawet serta cara memasak masakan yang lezat namun bergizi dan tepat nutrisi selain itu siswa juga belajar





Selain itu intervensi terhadap program pencegahan obesitas pada remaja juga diinisiasi oleh Mantan First Lady USA Michelle Obama melalui let's move initiation yang bertujuan mempromosikan gaya hidup sehat dengan cara yang mudah dan menarik yakni berfokus pada pemilihan makanan yang sehat, meningkatkan aktivitas fisik, akses terhadap makanan sehat serta pemilihan makanan yang sehat di sekolah. Pada let's move initiation ini program dibuat komprehensif baik di sekolah dan di rumah agar siswa bingung dengan value dan pilihan hidup sehat yang ia buat karna sebelumnya telah disepakati oleh orang tua dan sekolah mengenai apa-apa saja gaya hidup yang sehat yang boleh diikuti oleh siswa dan ikut mencourage dan mempromosikan hal tersebut.




Penggunaan media sosial juga berperan penting dalam menyukseskan gerakan yang sudah dijalankan sejak tahun pertama pemerintahan Obama ini, dalam perayaan 5 tahun pelaksanaan let's move initiation misalnya diadakan kampanye bertema #Gimme5 dimana setiap orang mulai dari teman, keluarga, sekolah dan siapa saja diminta untuk memberikan support berupa tos tangan apabila melihat si anak melakukan pilihan hidup yang lebih sehat (misal berjalan kaki/olahraga) dan agar pesan ini tersebarkan dan bisa menjadi suatu gerakan yang populer terutama dikalangan remaja sebagai target populasi dari program ini sendiri




Dalam melaksanakan program terkait di Indonesia misalnya kita perlu melakukan penyesuaian atas ide-ide yang ditawarkan program diatas dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip yang dibutuhkan untuk mencapai outcome yang diinginkan. Adapun secara garis besar prinsip pelaksanaan pencegahan obesitas pada remaja bersandar pada dua hal yakni peningkatan aktivitas fisik dan asupan nutrisi yang sehat. Prinsip tersebut dapat dimodifikasi dalam bentuk program berupa :


  • Jalan kaki bersama : melalui program ini diharapkan siswa dapat meningkatkan level aktivitas fisiknya dan dilakukan dengan cara yang tetap meng-engage siswa dalam kegiatan tersebut misal siswa dicarikan teman jalan kakinya agar dapat berangkat ke sekolah bersama-sama

  • Kotak makan sehat : dengan membiasakan membawa bekal siswa dapat diajarkan secara tidak langsung mengenai pola konsumsi makanan yang sehat dan tepat nutrisi hal ini penting mengingat pada remaja terutama dari kalangan ekonomi lemah pola konsumsi makanan yang tidak sehat merupakan faktor utama pemicu obesitas

  • Meningkatkan jam olahraga pagi hari : siswa bisa diberikan kesempatan untuk lebih aktif dan mencapai target aktivitas fisik yang cukup bagi remaja (60 mnit, 4-5 kali seminggu) apabila sekolah memberikan keleluasaan berupa peraturan yang memacu siswa untuk berolahraga dipagi hari misalnya bersama-sama dengan dikemas menarik dalam bentuk senam pagi dimana aktivitas tidak terlalu berat sehingga tidak menguras tenaga siswa tetapi juga tetap menyenangkan untuk dilakukan bersama.

Waktunya Bicara Kesehatan Mental, Studi Literatur: A mental health training program for community health workers in India: Impact on knowledge and attitudes

(sumber:http://www.lakelandcollege.ca/academics/online-and-blended-learning/programs-and-courses/mental-health-certificate/)


Tidak terpenuhinya kebutuhan perawatan kesehatan mental di negara-negara berpenghasilan rendah sangat meluas. Jika kesehatan mental ingin secara efektif diintegrasikan ke dalam pelayanan kesehatan primer, petugas kesehatan dasar perlu memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk dapat mengenali, merujuk dan membantu orang yang mengalami gangguan mental di komunitas mereka sendiri.

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan intervensi pelatihan kesehatan mental untuk pekerja kesehatan masyarakat di Kawasan Pedesaan Bangalore, Karnataka, India, dan untuk mengevaluasi dampak dari pelatihan tersebut terhadap tingkat pengetahuan kesehatan mental.
Sebuah desain penelitian pre-test post-test dilakukan dengan penilaian terhadap tingkat pengetahuan kesehatan mental pada tiga titik waktu, yaitu baseline penelitian, di akhir penelitian dan 3 bulan setelah penelitian berakhir. Penilaian dilakukan dengan cara wawancara menggunakan Mental Health Literacy Survey. Pelatihan berlangsung 4 hari berdasarkan pedoman yang disusun oleh komunitas kesehatan di India. Pelatihan diikuti 70 petugas kesehatan komunitas dari Doddaballapur, Kawasan Pedesaan Bangalore.

(sumber: https://caringmindblog.com/2016/02/20/time-to-talk-day-2016/)

Pelatihan berpotensi menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan beberapa aspek tingkat pengetahuan kesehatan mental. Pelatihan kesehatan mental tersebut meningkatkan kemampuan petugas kesehatan komunitas untuk mengenali gejala- gejala depresi dan psikosis, serta mengurangi kepercayaan mereka terhadap intervensi yang tidak perlu dalam gangguan mental. Terdapat bukti penurunan sikap stigmatisasi terhadap penderita gangguan mental. Namun, belum jelas apakah intervensi seperti pelatihan tersebut meningkatkan kepercayaan peserta terhadap kemungkinan pulihnya gangguan mental.


Sumber:
Armstrong, G., Kermode, M., Raja, S., Suja, S., Chandra, P., & Jorm, A. F. (2011). A mental health training program for community health workers in India: impact on knowledge and attitudes. International Journal of Mental Health Systems5, 17. http://doi.org/10.1186/1752-4458-5-17
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3169476/

Waktunya Bicara Kesehatan Mental, Studi Literatur: Systematic Medical Appraisal, Referral and Treatment (SMART) Mental Health Programme for providing innovative mental health care in rural communities in India

(sumber: http://blog.syncios.com/how-smartphone-apps-can-help-treat-anxiety-and-depression/)

India memiliki professional kesehatan mental yang sedikit dibanding  penderita gangguan mental yang ada. Terutama di area pedesaan, jumlah petugas kesehatan terlatih sangat kurang. Sebaliknya, India adalah negara dengan jumlah pengguna telepon seluler terbesar kedua di dunia (Cellular Operators Association of India, 2014), dengan hampir sepertiga penggunanya berada di area pedesaan. Salah satu jalan untuk memperbaiki kondisi tersebut adalah dengan melakukan pelatihan petugas kesehatan desa di pelayanan kesehatan mental dasar dan dengan menggunakan metode penyediaan pelayanan kesehatan mental yang inovatif mobile- based.
Penelitian ini bertujuan menilai feasibilitas, aseptabilitas dan efektivitas penggunaan intervensi kesehatan mobile- based dalam pelayanan kesehatan mental serta mengumpulkan persepsi masyarakat mengenai kesehatan mental di area pedesaan di India.


(sumber: https://id.pinterest.com/pin/453737731180799120/)
Komponen dari penelitian ini adalah kampanye anti- stigma diikuti dengan intervensi pelayan kesehatan mobile- based. Penelitian ini dilakukan di dua area pedesaan di Andhra Pradesh, India. dengan periode intervensi 1 tahun dan 3 bulan. Program ini menggunakan aplikasi pembantu pengambilan keputusan klinis mobile-based yang digunakan oleh petugas kesehatan bukan dokter dan dokter layanan primer untuk menyaring, mendiagnosis dan memanajemen individu dengan gangguan depresi, resiko bunuh diri dan tekanan emosional.
Penelitian ini menyediakan pemahaman mengenai kepercayaan- kepercayaan masyarakat tentang kesehatan mental yang umum terjadi dan memungkinkan aseptabilitas penggunaan mobile-based electronic decision support systems (EDSS) untuk menyediakan pelayanan kesehatan mental umum di masyarakat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perlu dilakukan modifikasi pada EDSS tersebut serta pada beberapa strategi penelitian secara keseluruhan. 



Sumber:
Maulik, P. K., Tewari, A., Devarapalli, S., Kallakuri, S., & Patel, A. (2016). The Systematic Medical Appraisal, Referral and Treatment (SMART) Mental Health Project: Development and Testing of Electronic Decision Support System and Formative Research to Understand Perceptions about Mental Health in Rural India. PLoS ONE11(10), e0164404. http://doi.org/10.1371/journal.pone.0164404
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5061375/

Implementation of WHO's Tailoring Immunization Programmes (TIP) in the Charedi Orthodox Jewish community in north east London.

Berikut ini adalah rincian laporan dari Public Health England (PHE) untuk mengatasi serapan imunisasi yang rendah di antara komunitas Charedi Ortodoks Yahudi di utara timur kota London. Menggunakan metodologi Tailoring Immunisation Program (TIP) untuk mengevaluasi efektivitas program vaksinasi di daerah ini.
Sebagai bagian dari upaya untuk menghilangkan campak dan rubella, Kantor Wilayah Organisasi Kesehatan Dunia untuk Eropa (WHO / Eropa) mengembangkan metode TIP dan alat untuk:
1. mengidentifikasi populasi rentan
2. menentukan hambatan untuk vaksinasi
3. menerapkan intervensi berbasis bukti
Pendekatan ini mengacu pada model perencanaan program kesehatan, termasuk humaniora medis, dan ilmu-ilmu sosial dan perilaku.

Tailoring immunisation programmes: Charedi community, north London

Waktunya Bicara Kesehatan Mental, Studi Literatur: Evaluation of an anti-stigma campaign related to common mental disorders in rural India: a mixed methods approach

Stigma adalah penghalang besar bagi individu untuk mencari bantuan terkait kesehatan mental sehingga menghasilkan rendahnya terapi pada negara berpenghasilan menengah kebawah. Penelitian ini menilai perubahan  pengetahuan, sikap, perilaku dan stigma terhadap kesehatan mental diantara subyek yang terpapar kampanye anti- stigma di kawasan pedesaan Andhra Pradesh, India Selatan.

Kampanye menggunakan intervensi multi- media yang tergabung dalam SMART (Systematic Medical Appraisal, Referral and Treatment) Mental Health Project, dilakukan dalam 3 bulan di 42 desa kawasan pedesaan Andhra Pradesh, India Selatan. Evaluasi dilakukan di 2 desa dengan pre-post design.

(sumber: http://www.time-to-change.org.uk/mental-health-and-stigma)
Strategi yang dilakukan dalam kampanye ini adalah:

  1. Mengembangkan materi informasi, edukasi dan komunikasi tertulis. Meliputi pembuatan brosur, pamflet dan poster tanda- gejala gangguan mental umum seperti depresi, resiko bunuh diri, stress dan bagaimana membedakan dengan gangguan mental berat; kebutuhan mendapatkan terapi dan bagaimana kondisi mental dapat mempengaruhi kesehatan; serta isu- isu mengenai stigma kesehatan mental yang umum di masyarakat. Selain itu juga dicantumkan contoh kasus dan diskusi kasus tersebut. Digunakan juga istilah- istilah lokal dalam material tersebut. Strategi yang digunakan adalah educational- based strategy.
  2. Melibatkan individu dengan gangguan mental umum dan caregiver dalam pembuatan video untuk menceritakan pengalamannya. Video tersebut ditampilkan dalam rangkaian kampanye dan didiskusikan. Dalam hal ini digunakan strategi kontak sosial (social contact strategy) untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental.
  3. Mengembangkan video promosional kesehatan mental, stigma dan SMART Mental Health project yang diperankan oleh actor lokal yang membicarakan mengenai gangguan mental umum menggunakan education strategy.
  4. Menampilkan pertunjukan drama yang diperankan kelompok teater lokal di 8 desa. Drama tersebut direkam untuk dapat ditampilkan di desa lain yang tidak menonton penampilan drama secara langsung.
Kampanye tidak meningkatkan pengetahuan subjek, namun ada perbaikan sikap dan perilaku yang signifikan. Stigma terkait help-seeking menurun signifikan. Strategi kontak sosial dan pertunjukan drama teridentifikasi sebagai intervensi yang paling bermanfaat dalam wawancara kualitatif.

(sumber: //http://www.time-to-change.org.uk/what-is-stigma)
Sumber:
Maulik, P. K., Devarapalli, S., Kallakuri, S., Tewari, A., Chilappagari, S., Koschorke, M., & Thornicroft, G. (2017). Evaluation of an anti-stigma campaign related to common mental disorders in rural India: a mixed methods approach. Psychological Medicine47(3), 565–575. http://doi.org/10.1017/S0033291716002804
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5244444/


Kekerasan Terhadap Perempuan di Daerah Kumuh India





Kelahiran seorang bayi perempuan, menurut penganut Hindu menjadi pertanda kedatangan Lakshmi dewi bertangan empat yang menyebarkan kekayaan tiba di dunia. Seharusnya, ini menjadi dasar keberadaan perempuan di India.
Namun realitasnya, perempuan di India hingga kini masih mengalami penyiksaan, diskriminasi, pembunuhan bahkan diaborsi sebelum lahir. Fakta itu menyebabkan 370 pakar gender di seluruh dunia sepakat India merupakan negara terburuk dari kelompok G20 dalam memperlakukan perempuan. Kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di India dengan perkiraan prevalensi berkisar antara 6 persen sampai 59 persen tergantung wilayahnya.
Sejak tahun 2012 telah terjadi peningkatan sebesar 27% dalam hal kekerasan terhadap perempuan di India. Data dari Biro Kejahatan nasional menunjukkan bahwa antara tahun 2009 dan 2013 kasus pelecehan kekerasan terhadap perempuan telah meningkat lebih dari 50%. Angka resmi dari Biro Catatan Kejahatan India mengungkapkan, sebanyak 8.233 perempuan muda meninggal di India di tahun 2012, diantaranya, adalah pengantin yang baru menikah, yang mendapat kekerasan dari suaminya. Laporan ini terus meningkat, bahkan diatas jumlah laporan terhadap perempuan yang mengalami kekerasan pelecehan seksual.Statistik ini tidak termasuk kasus-kasus yang tidak dilaporkan yang akan meningkatkan jumlah secara eksponensial.


Dowry, Mahar Kematian

Kata dowry sebenarnya merujuk kepada mas kawin yang diberikan keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan atau sebaliknya sebagai persyaratan utama untuk melangsungkan perkawinan. Mas kawin ini mempunyai banyak variasi pemberiannya, meliputi: uang, mas, berlian, ataupun barang-barang rumah tangga. Sistem dowry muncul di beberapa tempat seperti Eropa, Asia Selatan, Afrika dan beberapa belahan bumi lainnya.
Di India sendiri,  dowry atau mas kawin diberikan oleh keluarga perempuan kepada keluarga laki-laki. Mas kawin ini dianggap sebagai pemberian seorang ayah terhadap anak perempuannya sebagai bentuk perlindungan terhadap anaknya dari kemungkinan kekerasan ataupun kejahatan yang dilakukan oleh calon suami ataupun mertua.
Namun, dalam perkembangannya, karena pengaruh keadaan sosial dan ekonomi, dowry telah menjadi momok yang menakutkan terhadap perempuan di India. Di tahun 1961, praktek dowry menjadi illegal karena telah memakan korban (Perempuan), namun sampai sekarang system ini masih tertanam dalam budaya India. Dibawah perkembangan patriarki dan sistem ekonomi kapitalis, sistem dowry semakin banyak menjatuhkan korban, terutama perempuan.
Sejumlah  data menyebutkan, setiap jam ada perempuan India yang meninggal karena sistem ini, karena ketidaksanggupan perempuan untuk membayar mahar dalam perkawinan. Kekerasan dalam rumah tangga pun kerap kali terjadi karena pihak pria dan keluarganya merasa tidak puas terhadap pembayaran mahar yang tidak memadai. Tidak hanya itu, di tahun 2006, UNICEF melaporkan bahwa 10 juta anak perempuan tewas baik sebelum dilahirkan ataupun setelah dilahirkan. Kelahiran anak perempuan sering dianggap beban, sedangkan kelahiran bayi anak laki-laki dianggap membawa kemakmuran.
Perkembangan struktur ekonomi di India yang telah dipengaruhi oleh sistem kapitalis turut memperkeruh dan memperparah dampak sistim dowry terhadap perempuan. Lahirnya revolusi hijau di India menyebabkan perempuan tersingkir dari tanah pertanian dan mendapat upah lebih rendah dari laki-laki. Keadaan ini membuat perempuan semakin terhimpit oleh beban ekonomi. Sementara, disisi lain, karena tekanan adat dan budaya, perempuan juga harus menanggung kelangsungan hidup mereka.
Sistem kapitalis di India menyebabkan banyak laki-laki memegang peranan penting dalam mengendalikan peran ekonomi dan produksi.  Boomingnya ekonomi kapitalis menyebabkan munculnya kelas-kelas dalam masyarakat  India dan menciptakan masyarakat yang konsumeristik dan materialistik. Munculnya strata sosial yang  berdasarkan jumlah kekayaan membuat mahar perkawinan menjadi dikomersilkan dan menjadi ajang bisnis ketika pihak keluarga perempuan akan mengadakan perkawinan dengan calon pengantinnya.
Permintaan mahar yang tinggi membuat keluarga pengantin perempuan acap kali merasa kesulitan untuk membayar mahar dan menanggung malu apabila anak perempuannya tidak menikah. Hal ini membuat sebagian besar penduduk India menolak mempunyai anak perempuan, bahkan membunuh atau menggugurkan kandungannya apabila diketahui anak yang dikandung adalah perempuan.
Kehadiran perempuan dianggap beban dalam masyarakat. Sudah begitu, perempuan kurang mandiri dalam ekonomi. Hal ini  membuat perempuan semakin rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangganya. Perempuan dianggap masih bergantung kepada suami dan keluarganya, sehingga letak kekuasaan atau superioritas dalam rumah tangga terletak kepada suami. Sementara istri tetap pada posisi yang tersubordinasi.

Sisi Terang dan Gelap dalam Hukum

Meskipun kekerasan terhadap perempuan terjadi di semua daerah, korban kekerasan dari daerah kumuh menghadapi hambatan yang berbeda dalam memperoleh dukungan dan layanan, dan, karena itu, sangat beresiko untuk hasil kesehatan yang buruk dari kekerasan pasangan. Lingkungan kumuh ditandai dengan rendahnya status sosial-ekonomi, kondisi hidup yang tidak sehat, dan kurangnya pelayanan dasar. Aspek-aspek ini berperan dalam kerentanan perempuan terhadap kekerasan dan ketidakmampuan mereka untuk membebaskan diri dari hubungan yang kasar. Faktor-faktor yang meningkatkan tingkat stres keluarga telah terbukti meningkatkan kemungkinan kekerasan terhadap pasangan. Faktor yang terkait dengan kekerasan pasangan di India antara lain pernikahan dini, penggunaan alkohol  pada suami, pekerjaan perempuan, dan justifikasi istri.
Dalam hal ini, pandangan perempuan India atas diri mereka memegang peranan penting. Banyak perempuan tidak akan berbicara tentang pelecehan atau kekerasan seksual yang menimpa mereka, apalagi melaporkan ke polisi. "Kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di rumah hampir tidak pernah dilaporkan. Mereka khawatir keluarga akan terpecah, dan anak-anak menderita. Selain itu, banyak perempuan tergantung pada suami secara finansial. Bahkan perempuan yang berkarier tinggi menyerahkan uang mereka kepada suami. Sebagian besar dari mereka tidak tahu harus memberitahukan siapa, jika diperkosa atau dipukul suami."
Sikap badan hukum adalah halangan berikutnya bagi perempuan, yang ingin mengambil tindakan terhadap kekerasan. "Polisi tidak menanggapi dengan serius, jika perempuan melaporkan pemerkosaan," kata pengacara Flavia Agnes. "Sebelum membuat protokol, polisi ingin memeriksa kasus itu dulu, sehingga perempuan diajukan berbagai pertanyaan yang menyakitkan. Perempuan yang menjadi korban kemudian takut mencoreng citranya sendiri."

Peran Pemerintah
Badan PBB yang mengurus masalah perlindungan hak perempuan di dunia, UN Women, memiliki peran penting dalam mengatasi masalah kekerasan di India. Melalui prinsip konvensi CEDAW, UN Women menjalankan tugas-tugasnya menekan pemerintah India yang juga merupakan salah satu negara yang meratifikasi konvensi untuk membentuk perundangan nasional yang melindungi hak-hak perempuan dan menghapus diksriminasi atas mereka. UN Women melakukan intervensi organisasi internasional melalui dua langkah, yaitu langkah advokasi dan operasional. Melalui langkah advokasi, UN Women melakukan kerjasama dengan pihak pemerintah nasional, negara bagian dan daerah di India, pihak PBB dan badan-badan khusus PBB, serta kerjasama dengan masyarakat sipil dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) lokal. Kerjasama tersebut menghasilkan beberapa program yang melibatkan peran perempuan turut serta dalam pembangunan negara. Melalui langkah operasional, UN Women memberikan bantuan dana dari UN Trust Fund kepada pemerintah India dan LSM lokal khususnya dalam bidang perlindungan perempuan.

Selain itu, UN Women memberikan pelatihan-pelatihan kepada perempuan di India dari berbagai kalangan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam pengelolaan masyarakat dan negara. Tujuan utama dari UN Women di India adalah merubah pola pikir keseluruhan masyarakat India, bahwa kaum perempuan merupakan mitra penting dalam pembangunan masyarakat dan daerah di India. Kaum perempuan nantinya memperoleh kehormatan, hak dan posisi yang setara dengan kaum laki-laki, sehingga kekerasan dan diksriminasi terhadap perempuan di India akan menurun, pembangunan India akan dapat dilakukan dengan cepat dan merata.



Referensi
  1. Journal Domestic Violence India
  2. Dowry in India
  3. Dowry death
  4. Peran UN Women http://eprints.upnyk.ac.id/id/eprint/6675



Kesehatan Gigi dan Mulut 



Kesehatan gigi dan mulut merupakan komponen penting pada kesehatan sehari-hari. Dua masalah utama pada kesehatan gigi dan mulut, karies gigi dan penyakit periodontal merupakan penyakit yang sudah lama dan menyebar. Situasi kesehatan gigi dan mulut saat ini membutuhkan program pencegahan yang bisa diimplementasikan pada negara berkembang dan maju.

            Pada tahun 2011, Chachra dkk membuat penelitian tentang program kesehatan gigi dan mulut. Program tersebut bertujuan memperikan prevensi untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut pada anak dengan pendekatan yang berbeda. Tujuan akhir penelitian ini adalah menemukan cara yang paling efektif dan feasibel untuk prevensi penyakit pada gigi dan mulut. Program ini dilaksanakan selama 6 bulan pada kelompok sekolah. Program ini diikuti oleh 972 anak dengan rentang umur 5-16 tahun yang dipilih secara acak dari 4 sekolah di daerah Chandigarh dan Panchkula untuk mengevaluasi dan membandingkan prevalensi karies gigi, pengetahuan, sikap, dan latihan menjaga kesehatan gigi dan mulut.

            Pada negara seperti India, dengan sumber daya yang terbatas, metode paling feasibel dan cost-efektif adalah dengan mencegah penyakit gigi dan mulut yang berawal dari komunitas dan ditujukan pada/sejak usia sekolah.
Ada 4 hal yang ada didalam program ini:
1.      Lecture kesehatan gigi dan mulut
2.      Cara menggosok gigi yang baik dan benar
3.      Menggunakan pencuci mulut 0.2% NaF sekali dalam 15 hari
4.      Mengetahuan tentang hubungan antara gula dengan karies gigi, dan cara yang tepat dan aman untuk mengonsumsi gula.

Setelah 6 bulan, program ini dievaluasi hasilnya, ada 4 hasil evaluasi dari 4 sub-program pada   program ini:
1. Pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi dan mulut mengalami peningkatan
2. Pengetahuan siswa tentang fungsi fluoride untuk membuat gigi lebih kuat mengalami peningkatan hal ini diikuti dengan penggunaan fluoride pada siswa mengalami peningkatan
3. Frekuensi konsumsi gula pada siswa mengalami penurunan
4. Penurunan prevalensi karies gigi baik pada gigi susu atau gigi permanen.
         


         Sumber: Journal of Indian Society of Pedodontics and Preventive Dentistry | Jul - Sept 2011 | Issue 3 | Vol 29 |

            http://www.jisppd.com on Sunday, February 12, 2017

Large Scale Program in Managing the Silent Killer: Hypertension

Large Scale Program in Managing the Silent Killer: Hypertension

"The successful program is evidence that large-scale and comprehensive monitoring and intervention systems can improve blood pressure control,” Dr. Marc G. Jaffe
           Tekanan darah tinggi, atau yang dikenal pula dengan Hipertensi, merupakan kata yang tidak asing lagi untuk dipahami. Di Indonesia, data prevalensi di tahun 2013 secara nasional menunjukkan bahwa  25,8% penduduk Indonesia menderita penyakit Hipertensi. Dengan kata lain, 1 dari 4 orang warga Indonesia berusia > 18 tahun menderita Hipertensi. Tentunya angka tersebut jelas menunjukkan bahwa Hipertensi  masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Hal ini berkaitan pula dengan komplikasinya seperti stroke dan penyakit jantung iskemik yang termasuk dalam 5 penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
              Data lain menunjukkan bahwa kesadaran terhadap kontrol Hipertensi yang adekuat pada pasien Hipertensi masih sangat rendah. Masih sangat banyak masyarakat yang tidak menyadari jika dirinya mengidap Hipertensi. Hal ini dikarenakan Hipertensi seringkali tidak menimbulkan gejala tertentu tetapi bisa merusak organ tubuh dan memicu gagal ginjal, stroke, jantung sehingga disebut pula sebagai Silent Killer. Keadaan tersebut ditambah pula dengan manajemen Hipertensi yang bersifat long-term sehingga sulit untuk secara konstan menjaga ketaatan minum obat dan perubahan pola hidup pasien yang berperan penting dalam manajemen Hipertensi.
           Tidak berbeda jauh dengan Indonesia, di California Hipertensi juga menjadi masalah yang cukup besar. Berbagai program dijalankan untuk mengontrol tekanan darah demi memberikan intervensi terhadap tren Hipertensi yang selalu meningkat. Sebuah lembaga non profit yang dikenal dengan Kaiser Permanente Northern California (KPNC) menjalankan program ber-skala besar yang berhasil mengontrol 90% pasien Hipertensi.
Program ini dimulai dengan mengidentifikasi warga pengidap Hipertensi. Identifikasi individu pengidap Hipertensi dilakukan dengan melihat data yang telah ada pada rekam medik. Pada 2001, hampir 350.000 Pasien Hipertensi terlibat dalam program ini dan pada 2009 lebih dari 650.000 pasien terlibat. Langkah selanjutnya berupa kontrol yang baik terhadap guideline yang digunakan sebagai dasar manajemen Hipertensi. Guideline diperbarui setiap 2 tahun berdasarkan Evidence Based Medicine. Selanjutnya, guideline di distribusikan dalam berbagai macam bentuk seperti dokumen yang dicetak, e-mail updates, pocket cards, televised videoconferences, mengunggah ke internet, kepustakaan online, dan edukasi langsung secara personal.
          Pada tahun ke-7, KPNC melakukan kunjungan medis ke rumah sebagai alternatif dari kunjungan pasien ke pusat kesehatan. Untuk memastikan akurasi dari pengukuran tekanan darah, petugas medis yang melakukan kunjungan dilatih menggunakan alat yang telah ter-standarisasi serta melewati penilaian kompetensi pengukuran tekanan darah secara periodik. Kunjungan dijadwalkan setiap 2 – 4 minggu dilanjutkan dengan pengaturan dosis medikasi. Yang menarik, kunjungan ini tidak dipungut biaya sama sekali. Dari proses kunjungan tersebut, petugas medis yang melakukan kunjungan melaporkan langsung kepada dokter layanan primer yang selanjutnya secara intensif berhubungan dengan pasien. Hal ini meng-optimalkan alur kerja dari klinisi serta memberikan jadwal yang lebih fleksibel kepada pasien.
Program ini juga didukung oleh apoteker dalam bentuk produksi single-pill combination therapy. Terapi ini dipromosikan ke pasien dan dokter umum melalui  e-mail, materi yang dicetak, pocket card clinician tools, dan pada pertemuan atau konferensi tenaga medis. Strategi ini meningkatkan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat dan menurunkan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh obat.

      Di Asia sendiri, yaitu di Jepang, program berskala besar sejenis pernah pula dilakukan bertepatan dengan sebuah studi berjudul “Effects of a Long-term Hypertension Control Program on Stroke Incidence and Prevalence in a Rural Community in Northeastern Japan”. Pada studi ini, padak kelompok yang mendapat intervensi penuh dilakukan 5 program, yaitu: (1) Skrining tekanan darah untuk deteksi Hipertensi; (2) Pemberian rujukan pada individu yang beresiko tinggi ke klinik lokal untuk mendapatkan medikasi; (3) Edukasi mengenai Hipertensi di lokasi skrining, kelas khusus, dan kunjungan langsung ke rumah; (4) Pelatihan kepada 150 kader  mengenai makanan sehat; dan (5) Edukasi dengan bantuan media massa untuk meningkatkan partisipasi terhadap skrining tekanan darah dan pengurangan konsumsi garam.
           Secara spesifik, pelatihan kepada 150 kader dilaksanakan melalui 10 kelas per tahun yang meningkatkan pemahaman mengenai stroke dan modifikasi gaya hidup. Lalu, para kader memberikan edukasi  kepada 1000 orang per-tahun di lokasi skrining tekanan darah dan pusat kesehatan setempat. Pemberitahuan masif di transmisikan melalui  pengeras suara yang berhubungan langsung dengan jaringan telepon yang biasanya digunakan untuk pengumuman emergensi seperti kebakaran atau gempa bumi. Pengumuman juga diberikan sebagai undangan skrining Hipertensi dan pengumuman kelas edukasi satu minggu sebelumnya. Pengumuman ini diberikan selama 3 menit pada 6:30 AM, 12:30 PM, dan 6:30 PM setiap Kamis. Topik yang dipilih pun bervariasi seputar pengurangan konsumsi garam, pentingnya diet seimbang dan istirahat yang cukup.
Dari dua program tersebut, kenaikan kontrol Hipertensi dari 44% menjadi 90% menjadi bukti kesuksesan program KPNC mengenai Hipertensi. Salah satu tim dari KPNC, Dr. Marc G. Jaffe mengatakan bahwa program yang sukses ini merupakan bukti bahwa sistem intervensi yang berskala besar dan pemantauan yang komprehensif dapat mengubah kontrol tekanan darah. Selain itu, dari Studi yang dilakukan di Jepang, didapatkan kesimpulan bahwa pelayanan kontrol Hipertensi yang intensif, bebas, skrining yang luas terhadap komunitas dan edukasi kesehatan merupakan cara yang efektif pada prevensi stroke di komunitas. Intervensi skala besar yang telah berhasil dilakukan ini tentunya membutuhkan partisipasi dari dokter umum, administrator, penganalisis data, apoteker, perawat serta dukungan besar dari pemerintah dan masyarakat itu sendiri sebagai target intervensi agar Hipertensi dapat dikendalikan.